Daftar Bimbel
Opini

Sekolah Harus Menjadi Tempat yang Aman: Mengapa Rasa Aman Penting bagi Proses Belajar?

Amiruddin
35 min read · Sep 10, 2026
Sekolah Harus Menjadi Tempat yang Aman: Mengapa Rasa Aman Penting bagi Proses Belajar?
Ilustrasi Sekolah Aman dan Nyaman
Sekolah bukan hanya tempat siswa menerima pelajaran. Di sana, mereka belajar berinteraksi, membangun karakter, mengenali potensi diri, sekaligus menghadapi berbagai situasi yang membentuk pengalaman selama masa pendidikan. Karena itu, suasana sekolah turut menentukan bagaimana proses belajar berlangsung.

Lingkungan yang aman dan nyaman menjadi salah satu fondasi penting agar siswa dapat belajar secara optimal. Bukan hanya aman dari kekerasan secara fisik, tetapi juga terlindungi secara psikologis, merasa dihargai dalam pergaulan, serta mampu menggunakan ruang digital secara bertanggung jawab.

Hal inilah yang menjadi perhatian Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Peraturan tersebut menjadi landasan dalam membangun budaya sekolah yang tidak sekadar berorientasi pada pencegahan kekerasan, tetapi juga menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung tumbuh kembang seluruh warga sekolah.

Dari Sekadar Mencegah Kekerasan Menuju Budaya Aman


Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 mendefinisikan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman sebagai keseluruhan tata nilai, sikap, kebiasaan, dan perilaku yang dibangun di lingkungan sekolah.

Cakupannya cukup luas. Budaya tersebut mencakup pemenuhan kebutuhan spiritual, perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, keamanan sosiokultural, hingga keadaban dan keamanan digital.

Artinya, persoalan keamanan di sekolah tidak berhenti pada pertanyaan apakah seorang siswa mengalami kekerasan atau tidak. Lebih jauh, sekolah diharapkan mampu menciptakan suasana yang membuat setiap warga sekolah merasa dihargai, terlindungi, dan memiliki ruang untuk berkembang.

Kemendikdasmen juga menempatkan pendekatan promotif dan preventif sebagai bagian penting dalam kebijakan ini. Upaya membangun budaya aman dilakukan sebelum persoalan muncul, bukan hanya bertindak setelah terjadi masalah.

Perubahan cara pandang tersebut penting. Sebab, budaya sekolah pada akhirnya tidak hanya dibentuk melalui aturan tertulis, tetapi juga melalui kebiasaan sehari-hari—bagaimana guru berkomunikasi dengan siswa, bagaimana siswa memperlakukan teman, bagaimana perbedaan disikapi, dan bagaimana seluruh warga sekolah menyelesaikan persoalan.

Aman Secara Fisik, Nyaman Secara Psikologis


Ada kalanya sekolah terlihat aman secara fisik, tetapi belum tentu terasa nyaman bagi semua siswa.

Seorang siswa mungkin tidak mengalami kekerasan, tetapi merasa takut menyampaikan pendapat. Ada pula yang memilih diam karena khawatir diejek ketika melakukan kesalahan. Di sisi lain, perkembangan teknologi membuat interaksi antarsiswa tidak lagi terbatas pada ruang kelas. Percakapan di media sosial dan berbagai ruang digital juga dapat memengaruhi pengalaman belajar siswa.

Karena itu, Budaya Sekolah Aman dan Nyaman mencakup dimensi yang lebih luas. Kemendikdasmen menegaskan bahwa sekolah perlu menjadi ruang yang mendukung warga sekolah untuk belajar, bekerja, dan berinteraksi dalam suasana yang tenang, menghargai martabat manusia, serta mendukung perkembangan bersama.

Dalam konteks ini, keamanan digital juga menjadi bagian dari pendidikan. Siswa perlu dibekali kesadaran bahwa sikap saling menghargai tidak berhenti ketika pembelajaran di kelas selesai. Etika dalam berkomunikasi melalui perangkat digital pun menjadi bagian dari karakter yang perlu dibangun.

Membangun Budaya Aman Membutuhkan Kolaborasi


Mewujudkan sekolah yang aman dan nyaman bukan pekerjaan satu pihak.

Kemendikdasmen menempatkan sekolah, keluarga, masyarakat, dan media sebagai bagian dari ekosistem yang perlu berkolaborasi. Di lingkungan sekolah sendiri, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan murid memiliki peran dalam membangun budaya tersebut.

Keterlibatan siswa menjadi hal yang tidak kalah penting. Mereka bukan hanya penerima kebijakan, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pergaulan yang sehat.

Hal-hal sederhana sebenarnya dapat menjadi awal. Menghargai teman yang memiliki pendapat berbeda, tidak menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan candaan, berani meminta bantuan ketika menghadapi masalah, serta membantu teman yang membutuhkan merupakan contoh perilaku yang dapat memperkuat budaya aman di sekolah.

Dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah budaya terbentuk.

Sekolah sebagai Ruang untuk Tumbuh


Pendidikan pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang nilai ujian atau pencapaian akademik. Sekolah juga menjadi ruang bagi siswa untuk belajar menjadi manusia yang mampu berinteraksi, mengambil keputusan, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain.

Karena itu, lingkungan belajar yang aman dan nyaman memiliki hubungan erat dengan proses pendidikan secara keseluruhan. Ketika siswa merasa aman untuk bertanya, berdiskusi, mencoba, bahkan melakukan kesalahan sebagai bagian dari proses belajar, kesempatan mereka untuk berkembang pun menjadi lebih terbuka.

Kemendikdasmen menyebut kebijakan ini sebagai upaya membangun lingkungan sekolah melalui pendekatan yang humanis, komprehensif, dan partisipatif. Harapannya, sekolah benar-benar menjadi ruang yang memuliakan guru dan siswa sekaligus mendukung tumbuh kembang mereka.

Peran Semua Pihak dalam Mewujudkan Sekolah yang Aman dan Nyaman


Penerbitan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 menjadi pengingat bahwa menciptakan lingkungan belajar yang aman bukan semata-mata urusan aturan.

Regulasi dapat menjadi landasan, tetapi budaya dibangun melalui praktik sehari-hari.

Guru dapat menjadi teladan dalam berkomunikasi dan menyelesaikan persoalan. Orang tua dapat memperkuat nilai-nilai tersebut di rumah. Siswa dapat membangun kebiasaan saling menghormati dengan teman. Sementara masyarakat dan media dapat turut menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuh kembang anak.

Dalam implementasinya, pemerintah juga memperkuat koordinasi lintas sektor melalui pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) Budaya Sekolah Aman dan Nyaman di daerah. Langkah ini menunjukkan bahwa penerapan kebijakan tersebut membutuhkan kerja bersama dan tidak berhenti pada tingkat satuan pendidikan.

Pada akhirnya, sekolah yang aman dan nyaman bukan sekadar sekolah yang bebas dari masalah. Lebih dari itu, sekolah adalah tempat ketika setiap siswa dapat datang untuk belajar tanpa rasa takut, berinteraksi tanpa merasa direndahkan, dan berkembang sesuai potensi yang dimilikinya.

Bagi dunia pendidikan, inilah tantangan sekaligus tanggung jawab bersama: memastikan bahwa proses belajar tidak hanya membuat siswa semakin berpengetahuan, tetapi juga membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, mampu menghargai sesama, dan siap menghadapi kehidupan di tengah masyarakat.

Sebab, lingkungan belajar yang baik bukan hanya membuat siswa mampu belajar. Lingkungan yang baik juga membantu mereka tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.

Referensi:
  • Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman
Amiruddin

Ditulis oleh Amiruddin

Penulis di KabarNF

Lihat Profil