Daftar Bimbel
Opini

Saatnya Menemukan Ikigai: Belajar Bukan Sekadar Mengejar Nilai

Amiruddin
45 min read · Sep 14, 2026
Saatnya Menemukan Ikigai: Belajar Bukan Sekadar Mengejar Nilai
unsplash/findezukunft
Bagi sebagian pelajar, belajar sering kali identik dengan jadwal, tugas, ujian, nilai, dan target masuk perguruan tinggi. Semua itu penting. Namun, ada pertanyaan yang tidak kalah penting dan terkadang justru jarang ditanyakan: untuk apa saya belajar?

Pertanyaan tersebut membawa kita pada sebuah konsep dari Jepang yang dikenal dengan istilah ikigai. Secara sederhana, ikigai kerap dipahami sebagai alasan atau sesuatu yang membuat seseorang merasa hidupnya memiliki makna dan layak dijalani.

Dalam konteks pendidikan, ikigai dapat menjadi cara pandang untuk membantu siswa mengenali dirinya sendiri, memahami apa yang disukai, mengembangkan kemampuan, sekaligus melihat bagaimana potensinya dapat memberi manfaat bagi orang lain.

Bagi siswa yang sedang mempersiapkan masa depan, menemukan arah seperti ini dapat membuat proses belajar tidak berhenti pada mengejar angka di rapor atau skor ujian.

Ketika Belajar Hanya Berorientasi pada Nilai


Nilai akademik memang menjadi salah satu indikator penting dalam perjalanan pendidikan. Nilai dapat membantu siswa mengetahui sejauh mana pemahaman terhadap materi dan menjadi salah satu pertimbangan dalam berbagai proses seleksi pendidikan.

Namun, nilai bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang siswa.

Ada siswa yang mendapatkan nilai tinggi tetapi masih bingung menentukan jurusan kuliah. Ada pula yang sebenarnya memiliki kemampuan di bidang tertentu, tetapi belum mendapatkan kesempatan untuk mengenal potensinya secara lebih mendalam.

Di sinilah pentingnya memberikan ruang kepada siswa untuk bertanya tentang dirinya sendiri.

Apa yang saya sukai? Apa yang menjadi kekuatan saya? Kegiatan apa yang membuat saya bersemangat? Masalah apa yang ingin saya bantu selesaikan? Dan kemampuan seperti apa yang ingin saya kembangkan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak selalu memiliki jawaban yang langsung ditemukan. Justru, proses menemukan jawabannya merupakan bagian dari perjalanan pendidikan.

Memahami Ikigai dalam Dunia Pendidikan


Konsep ikigai sering digambarkan melalui empat unsur yang saling beririsan, yaitu apa yang disukai, apa yang dikuasai, apa yang dibutuhkan oleh lingkungan, dan apa yang dapat memberikan nilai atau manfaat.

Jika diterapkan dalam pendidikan, keempat unsur tersebut dapat menjadi bahan refleksi bagi siswa.

Pertama, apa yang disukai.
Minat dapat menjadi titik awal. Siswa mungkin menyukai matematika, bahasa, teknologi, olahraga, seni, sains, atau bidang sosial. Minat tidak selalu langsung menunjukkan profesi masa depan, tetapi dapat menjadi petunjuk tentang hal-hal yang membuat seseorang tertarik untuk belajar lebih jauh.

Kedua, apa yang dikuasai.
Minat perlu berjalan bersama kemampuan. Siswa perlu mengetahui bidang yang menjadi kekuatannya dan bagian mana yang masih harus dikembangkan. Kemampuan bukan sesuatu yang selalu bersifat tetap. Dengan latihan, pendampingan, dan pengalaman, kemampuan dapat terus bertumbuh.

Ketiga, apa yang dibutuhkan.
Pendidikan tidak hanya berbicara tentang pencapaian pribadi. Pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki seseorang pada akhirnya dapat digunakan untuk memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Keempat, nilai atau manfaat yang dapat diberikan.
Siswa dapat mulai memikirkan bagaimana pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya kelak dapat digunakan untuk menghasilkan karya, membantu orang lain, atau berkontribusi dalam bidang yang dipilih.

Keempat hal tersebut tidak harus langsung ditemukan secara sempurna. Bagi pelajar, ikigai lebih tepat dipandang sebagai proses mengenali diri dan mengeksplorasi kemungkinan, bukan sebagai satu jawaban yang harus ditemukan sejak usia sekolah.

Menemukan Arah Tidak Harus Menunggu Dewasa


Salah satu tantangan yang sering dihadapi siswa adalah menentukan pilihan pendidikan lanjutan.

Ketika harus memilih jurusan atau perguruan tinggi, siswa bisa saja lebih banyak mempertimbangkan faktor eksternal: jurusan yang dianggap populer, pilihan teman, tren pekerjaan, atau harapan orang tua.

Pertimbangan tersebut tidak selalu salah. Akan tetapi, keputusan pendidikan akan menjadi lebih kuat apabila siswa juga memahami dirinya sendiri.

Misalnya, seorang siswa memiliki ketertarikan terhadap bidang kesehatan. Ia tidak cukup hanya mengetahui bahwa profesi di bidang tersebut dibutuhkan. Ia juga perlu mengenali apakah dirinya menikmati proses belajar biologi, memiliki ketertarikan terhadap manusia dan kesehatan, serta siap menjalani proses pendidikan yang diperlukan.

Begitu pula dengan siswa yang tertarik pada teknologi. Ketertarikan terhadap komputer perlu diikuti dengan eksplorasi kemampuan dan pengalaman belajar agar siswa mengetahui bidang mana yang paling sesuai dengan dirinya.

Dengan demikian, memilih jurusan bukan sekadar pertanyaan tentang “jurusan apa yang bagus?”, tetapi juga “jurusan apa yang sesuai dengan diri saya dan ingin saya kembangkan?”

Peran Orang Tua dan Guru: Mendampingi, Bukan Memaksakan


Proses menemukan arah pendidikan membutuhkan lingkungan yang mendukung.

Orang tua memiliki peran penting untuk memberikan kesempatan kepada anak mengenali minat dan potensinya. Begitu pula guru yang setiap hari berinteraksi dengan siswa di lingkungan pendidikan.

Pendampingan tidak selalu berarti memberikan jawaban. Terkadang, pendampingan justru berarti mengajukan pertanyaan yang membantu siswa berpikir.

Ketika seorang anak mengatakan ingin menjadi sesuatu, misalnya, orang tua dan guru dapat mengajaknya mengeksplorasi alasan di balik pilihan tersebut. Apa yang membuatnya tertarik? Apa yang sudah ia ketahui? Kemampuan apa yang perlu dikembangkan? Pengalaman apa yang bisa dicoba?

Dengan cara tersebut, siswa belajar mengambil keputusan berdasarkan pemahaman, bukan semata-mata karena mengikuti pilihan orang lain.

Bimbingan Belajar Bukan Hanya tentang Persiapan Ujian


Dalam perjalanan pendidikan, bimbingan belajar memiliki ruang untuk mendampingi siswa dalam aspek akademik sekaligus membantu mereka membangun kebiasaan belajar yang lebih terarah.

Bimbingan Belajar Nurul Fikri melihat proses belajar idealnya tidak hanya berorientasi pada hasil ujian. Siswa perlu dibantu memahami materi, mengembangkan strategi belajar, mengevaluasi perkembangan, serta mempersiapkan diri menghadapi tahapan pendidikan berikutnya.

Persiapan masuk perguruan tinggi, misalnya, bukan hanya tentang mendapatkan skor yang baik dalam seleksi. Siswa juga perlu memiliki pertimbangan yang matang ketika memilih program studi dan perguruan tinggi.

Di titik ini, semangat ikigai dapat menjadi salah satu perspektif yang relevan: membantu siswa melihat hubungan antara minat, kemampuan, tujuan pendidikan, dan manfaat yang ingin diberikan di masa depan.

Pendekatan tersebut sejalan dengan gagasan bahwa keberhasilan belajar tidak hanya diukur dari seberapa tinggi nilai yang diperoleh, tetapi juga dari sejauh mana siswa mampu berkembang menjadi pribadi yang memiliki arah dan kemauan untuk terus belajar.

Ikigai Bukan Rumus Menentukan Masa Depan


Ada satu hal yang perlu diperhatikan ketika membicarakan ikigai kepada pelajar. Konsep ini sebaiknya tidak diperlakukan sebagai rumus yang harus menghasilkan satu profesi atau satu pilihan hidup.

Seorang siswa kelas 9 atau kelas 12 belum tentu harus sudah mengetahui secara pasti pekerjaan yang akan dijalaninya puluhan tahun mendatang.

Dunia terus berubah. Teknologi berkembang, jenis pekerjaan baru muncul, dan kebutuhan masyarakat juga mengalami perubahan. Karena itu, pendidikan perlu membekali siswa bukan hanya dengan jawaban, tetapi juga kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi.

Ikigai dapat menjadi titik awal untuk mengenali diri. Jawabannya pun dapat berubah seiring bertambahnya usia, pengalaman, pengetahuan, dan lingkungan.

Yang terpenting adalah siswa memiliki keberanian untuk mencoba, mengevaluasi, dan kembali belajar.

Belajar dengan Mengetahui Alasannya


Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya perjalanan dari satu ujian menuju ujian berikutnya.

Ada proses panjang ketika seorang siswa belajar mengenali dirinya, menemukan kekuatan, menghadapi kelemahan, mencoba berbagai hal, kemudian perlahan memahami arah yang ingin dituju.

Ikigai mengajak kita melihat pendidikan dari sudut yang lebih luas. Belajar bukan hanya tentang apa yang harus dipelajari, tetapi juga mengapa seseorang perlu belajar dan ke mana pengetahuan itu akan membawanya.

Bagi siswa, menemukan alasan untuk belajar mungkin tidak selalu mudah. Namun, ketika proses tersebut didampingi dengan baik, belajar dapat menjadi sesuatu yang lebih bermakna daripada sekadar mengejar nilai.

Sebab, pendidikan yang baik bukan hanya membantu siswa menjawab soal di ruang ujian. Lebih jauh dari itu, pendidikan diharapkan membantu mereka menemukan potensi, membangun karakter, menentukan pilihan, dan mempersiapkan diri untuk memberi manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.

Dan mungkin, dari sanalah perjalanan menemukan ikigai seorang pelajar benar-benar dimulai.
Amiruddin

Ditulis oleh Amiruddin

Penulis di KabarNF

Lihat Profil