Membaca satu halaman buku hingga selesai mungkin terlihat sederhana. Namun, di tengah derasnya informasi digital, kemampuan membaca tidak lagi cukup hanya dengan mengenali kata, memahami kalimat, lalu menutup buku.
Hari ini, seseorang juga dituntut mampu memahami konteks, memeriksa kebenaran informasi, membandingkan berbagai sumber, menyampaikan gagasan, hingga mengambil keputusan berdasarkan informasi yang diterimanya.
Persoalan itulah yang membuat makna literasi terus berkembang. Pada Hari Literasi Internasional 2026 yang diperingati setiap 8 September, UNESCO mengangkat tema “Literacy for People, Planet and Prosperity” atau *Literasi untuk Manusia, Planet, dan Kemakmuran. Tahun ini sekaligus menjadi peringatan ke-60 sejak UNESCO menetapkan Hari Literasi Internasional.
Tema tersebut menempatkan literasi bukan sekadar kemampuan akademik, tetapi sebagai bekal yang berkaitan dengan kehidupan manusia, masa depan yang berkelanjutan, serta kesempatan untuk berkembang dan memperoleh penghidupan yang lebih baik.
Dari Membaca Tulisan Menjadi Memahami Dunia
Selama ini, literasi sering kali dipahami secara sederhana sebagai kemampuan membaca dan menulis. Padahal, definisi literasi yang digunakan UNESCO telah berkembang jauh lebih luas.
UNESCO menjelaskan literasi sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, menciptakan, berkomunikasi, dan menggunakan informasi serta angka dalam berbagai konteks. Literasi juga dipandang sebagai sebuah proses belajar yang berlangsung sepanjang kehidupan.
Dengan pengertian tersebut, seorang pelajar yang membaca berita di internet tidak cukup hanya mengetahui isi berita. Ia perlu bertanya: siapa yang membuat informasi tersebut, apa sumber datanya, apakah ada bukti yang mendukung, dan apakah informasi serupa dapat ditemukan dari sumber lain?
Di situlah literasi berubah dari aktivitas membaca menjadi kemampuan memahami dan menilai realitas.
Pelajar dan Tantangan Informasi yang Tak Pernah Berhenti
Bagi pelajar, perubahan makna literasi terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Informasi untuk mengerjakan tugas dapat ditemukan dalam hitungan detik. Video pembelajaran tersedia dalam berbagai platform. Buku digital dapat dibaca melalui gawai. Bahkan, teknologi kecerdasan artifisial (AI) kini mampu menghasilkan rangkuman, menjelaskan materi, hingga membantu menyusun tulisan.
Kemudahan tersebut tentu membuka peluang besar dalam proses belajar. Namun, semakin mudah informasi diperoleh, semakin penting pula kemampuan untuk menilai informasi tersebut.
OECD melalui kerangka literasi membaca PISA menjelaskan bahwa kemampuan membaca mencakup memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan, dan berinteraksi dengan teks untuk mencapai tujuan, mengembangkan pengetahuan, serta berpartisipasi dalam masyarakat. Dalam konteks abad ke-21, membaca juga mencakup kemampuan menghadapi teks digital, membandingkan berbagai sumber, membedakan fakta dan opini, serta membangun pengetahuan.
Artinya, ketika seorang siswa membaca sebuah unggahan di media sosial, kemampuan literasinya tidak berhenti pada pertanyaan “Apa isi informasi ini?”
Pertanyaan berikutnya justru bisa menjadi lebih penting:
“Apakah informasi ini benar?”
Literasi di Era AI: Bukan Sekadar Bisa Menggunakan Teknologi
Kemunculan AI membuat kebutuhan terhadap literasi semakin kompleks.
Seorang pelajar dapat menggunakan AI untuk membantu memahami materi pelajaran. Akan tetapi, hasil yang diberikan teknologi tetap perlu diperiksa. AI dapat menghasilkan jawaban yang terlihat meyakinkan, tetapi pengguna tetap harus memiliki kemampuan untuk mengevaluasi informasi, memeriksa sumber, memahami konteks, dan menentukan apakah jawaban tersebut layak digunakan.
UNESCO sendiri menempatkan literasi digital sebagai kemampuan menggunakan teknologi digital secara percaya diri sekaligus kritis, termasuk untuk mengakses, mengelola, memahami, mengintegrasikan, mengevaluasi, dan menciptakan informasi secara aman dan tepat.
Karena itu, melek teknologi tidak selalu berarti melek informasi.
Siswa mungkin sangat terampil menggunakan mesin pencari, media sosial, aplikasi pembelajaran, atau AI. Namun, keterampilan tersebut akan jauh lebih bermakna jika disertai kebiasaan bertanya, memeriksa, membandingkan, dan berpikir kritis.
Lima Wujud Literasi yang Penting bagi Pelajar
Literasi modern dapat hadir dalam berbagai bentuk. Setidaknya ada beberapa kebiasaan yang dapat mulai dibangun pelajar dalam kehidupan sehari-hari.
1. Membaca untuk memahami
Jangan terburu-buru membaca hanya untuk mencari jawaban. Biasakan memahami gagasan utama, hubungan antaride, tujuan penulis, serta konteks sebuah tulisan.
Kebiasaan ini membantu siswa tidak sekadar menemukan informasi, tetapi benar-benar memahami materi yang dipelajari.
2. Membaca secara kritis
Tidak semua informasi yang terlihat menarik layak dipercaya.
Pelajar perlu membiasakan diri mengecek sumber, tanggal publikasi, data, dan kredibilitas pembuat informasi. Ketika menemukan informasi yang meragukan, jangan langsung menyebarkannya.
3. Membandingkan informasi
Satu sumber belum tentu memberikan gambaran lengkap.
Membandingkan informasi dari beberapa sumber dapat membantu siswa melihat perbedaan sudut pandang dan menemukan informasi yang lebih dapat dipertanggungjawabkan.
4. Menulis untuk menyampaikan gagasan
Literasi tidak berhenti pada kemampuan menerima informasi. Pelajar juga perlu mampu mengolah apa yang dipelajari menjadi gagasan yang dapat disampaikan secara runtut.
Menulis rangkuman, membuat catatan, menyusun argumentasi, atau menjelaskan kembali materi dengan bahasa sendiri merupakan bagian dari proses tersebut.
5. Menggunakan informasi untuk mengambil keputusan
Pada akhirnya, literasi memiliki hubungan dengan kehidupan nyata.
Memilih sumber belajar, menentukan informasi yang dapat dipercaya, memahami data, menyusun rencana belajar, hingga mempertimbangkan pilihan pendidikan membutuhkan kemampuan membaca informasi sekaligus mengolahnya.
Dengan kata lain, literasi membantu seseorang membuat keputusan yang lebih baik.
Mengapa Literasi Penting untuk Masa Depan?
Literasi memberikan seseorang kemampuan untuk terus belajar.
UNESCO menyebut literasi sebagai bagian penting dari hak atas pendidikan dan sebagai kemampuan yang dapat memperluas kesempatan hidup, meningkatkan partisipasi dalam dunia kerja, mengurangi kemiskinan, serta mendukung kesehatan dan pembangunan berkelanjutan.
Namun, tantangan literasi global masih besar. Data UNESCO menunjukkan setidaknya 739 juta orang dewasa di dunia masih belum memiliki kemampuan literasi dasar, sementara jutaan anak belum mencapai kemampuan minimum dalam membaca.
Angka tersebut menunjukkan bahwa literasi masih menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan perhatian bersama.
Di sisi lain, tantangannya kini bukan hanya memastikan seseorang mampu membaca dan menulis, tetapi juga memastikan kemampuan tersebut tetap relevan ketika cara manusia memperoleh, mengolah, dan membagikan informasi terus berubah.
Membiasakan Literasi dari Ruang Kelas
Sekolah dan lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan literasi. Namun, literasi tidak harus selalu hadir dalam bentuk kegiatan membaca buku selama berjam-jam.
Diskusi kelas, membaca artikel, menyelesaikan soal berbasis kasus, menulis argumentasi, mempresentasikan gagasan, melakukan riset sederhana, hingga mengevaluasi informasi dari internet dapat menjadi bagian dari pembelajaran literasi.
Bagi pelajar, kebiasaan sederhana juga bisa dimulai dari hal-hal yang dekat dengan keseharian: membaca sebelum menyimpulkan, mencari sumber sebelum percaya, berpikir sebelum membagikan informasi, dan berani mempertanyakan sesuatu yang belum jelas.
Inilah keterampilan yang akan semakin penting ketika dunia pendidikan dan pekerjaan bergerak dalam lingkungan yang semakin digital.
Dari Literasi untuk Diri Sendiri hingga Literasi untuk Dunia
Tema “Literacy for People, Planet and Prosperity” pada Hari Literasi Internasional 2026 mengingatkan bahwa literasi memiliki dampak yang lebih luas daripada kemampuan seseorang memahami sebuah teks.
Literasi dapat membantu manusia memahami persoalan di sekitarnya, berpartisipasi dalam masyarakat, mengenali tantangan lingkungan, serta membuka kesempatan untuk berkembang. UNESCO menempatkan literasi sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih inklusif, damai, dan berkelanjutan.
Bagi pelajar, maknanya sederhana tetapi penting: belajar membaca bukan hanya agar mampu menjawab soal, tetapi agar mampu memahami dunia.
Sebab, di tengah banjir informasi dan perkembangan AI, tantangan terbesar bukan lagi sekadar menemukan jawaban. Tantangannya adalah mengetahui jawaban mana yang benar, mengapa jawaban itu benar, dan bagaimana menggunakannya secara bertanggung jawab.
Hari Literasi Internasional 2026 menjadi momentum untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar menjadi pembaca yang memahami, bukan sekadar pembaca yang menyelesaikan tulisan?
Karena pada akhirnya, literasi bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita baca, tetapi seberapa baik kita memahami, menilai, dan menggunakan apa yang kita baca.
Referensi:




