Tidak semua hal dalam kehidupan berjalan sesuai dengan keinginan manusia. Ada rencana yang berhasil, ada yang tertunda, bahkan ada keadaan yang sejak awal tidak pernah bisa dipilih. Dalam kondisi seperti ini, Islam mengajarkan satu sikap penting, yaitu ar-ridha atau kerelaan terhadap apa yang Allah kehendaki.
Ar-ridha bukan berarti menyerah dan berhenti berusaha. Sikap ini berkaitan dengan keyakinan bahwa Allah Ta'ala memiliki kehendak dan ketetapan yang penuh hikmah. Karena itu, seorang mukmin dituntut untuk memiliki sikap ridha kepada Allah sebagai konsekuensi dari keimanannya.
Lalu, apa sebenarnya makna ar-ridha? Bagaimana seorang muslim seharusnya menyikapi qadha dan qadar, ketentuan Allah di alam semesta, serta syariat yang diperintahkan-Nya?
Memahami Ar-Ridha dalam Kehidupan Seorang Muslim
Ketika seseorang menyatakan bahwa Allah adalah Ilah-nya, salah satu tuntutan dan konsekuensi dari pernyataan tersebut adalah memiliki sikap ridha kepada-Nya.
Seorang mukmin perlu ridha terhadap ma aradallah, yaitu apa-apa yang Allah kehendaki. Materi Ar-Ridha menjelaskan tiga bentuk yang dapat membantu memahami sikap tersebut, yaitu ma aradallahu bina, ma aradallahu bil-kauni, dan ma aradallahu minna.
Ketiganya berkaitan dengan bagaimana manusia menerima ketetapan Allah atas dirinya, memahami ketentuan-Nya pada alam semesta, serta menjalankan apa yang Allah kehendaki dari manusia melalui syariat.
1. Ridha terhadap Apa yang Allah Tetapkan atas Diri Kita
Pertama adalah ma aradallahu bina, yaitu ridha terhadap apa-apa yang Allah kehendaki atau tetapkan atas diri kita di ‘alamul ghaib atau alam yang berada di luar pilihan manusia.
Ada banyak hal dalam kehidupan yang tidak dapat dipilih sejak awal. Seseorang tidak memilih dilahirkan dari orang tua atau keluarga tertentu, tidak menentukan jenis kelaminnya sendiri, serta tidak mengetahui secara pasti berbagai peristiwa yang akan terjadi dalam perjalanan hidupnya.
Hal-hal tersebut berkaitan dengan al-qadha-u wal qadar, yakni ketetapan Allah.
Para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai perbedaan istilah qadha dan qadar. Salah satu pendapat yang dianggap kuat menjelaskan bahwa ketika kedua istilah tersebut disebut secara bersamaan, keduanya memiliki makna yang berbeda. Namun, ketika disebut secara terpisah, salah satunya dapat memiliki makna yang mencakup lainnya.
Yang menjadi bagian penting bagi seorang muslim adalah beriman kepada qadha dan qadar.
Iman kepada Takdir yang Baik maupun yang Buruk
Beriman kepada qadha dan qadar merupakan bagian dari tuntutan keimanan. Ketika Rasulullah ﷺ ditanya mengenai iman, beliau menjelaskan bahwa iman mencakup kepercayaan kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta takdir yang baik maupun yang buruk.
“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (H.R. Muslim)
Dengan demikian, sikap seorang mukmin ketika menghadapi qadha dan qadar adalah mengimaninya. Manusia tidak selalu mampu mengetahui hikmah di balik setiap ketetapan Allah. Karena itu, kewajibannya adalah meyakini bahwa setiap ketetapan Allah mengandung hikmah dan menerimanya dengan keimanan.
2. Ridha terhadap Ketentuan Allah di Alam Semesta
Bentuk kedua adalah ma aradallahu bil-kauni, yaitu ridha terhadap apa yang Allah kehendaki atau tetapkan atas alam semesta di ‘alamut tajribah, atau alam kehidupan.
Ketentuan tersebut berupa sunnatullah fil kauni, yaitu ketentuan Allah yang berlaku di alam semesta.
Allah Ta'ala berfirman:
“...dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqan, 25:2)
Pada bagian ini, manusia justru dapat melakukan pembahasan dan pengkajian terhadap berbagai ketentuan Allah di alam semesta.
Belajar dari Alam untuk Menguatkan Keimanan
Mengapa alam semesta perlu dipelajari?
Materi Ar-Ridha menjelaskan bahwa manusia boleh melakukan al-bahtsu, yaitu pembahasan atau pengkajian terhadap ketentuan Allah di alam. Pengkajian tersebut dapat membantu manusia menemukan tanda-tanda kekuasaan Allah sehingga semakin mengokohkan keimanan kepada-Nya.
Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 190–191 tentang penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang sebagai tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir.
Ayat tersebut menunjukkan pentingnya memperhatikan dan memikirkan ciptaan Allah. Dengan mempelajari alam, manusia tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga dapat semakin menyadari kebesaran Sang Pencipta.
Ilmu dan Pengetahuan untuk Memakmurkan Kehidupan
Pengkajian terhadap alam juga memiliki tujuan al-intifa, yaitu pemanfaatan dan memakmurkannya.
Dalam materi tersebut, hal ini dikaitkan dengan firman Allah melalui kisah Nabi Shaleh 'alaihissalam yang menyebut bahwa manusia telah diciptakan dari bumi dan dijadikan sebagai pemakmurnya.
Artinya, proses belajar dan mengembangkan pengetahuan tidak berhenti pada mengetahui sesuatu. Pengetahuan juga dapat dimanfaatkan untuk kebaikan dan kemanfaatan kehidupan.
Bagi pelajar, semangat tersebut dapat diwujudkan dengan membangun rasa ingin tahu, mempelajari berbagai fenomena di sekitar, serta menggunakan ilmu yang diperoleh untuk memberikan manfaat.
3. Ridha terhadap Apa yang Allah Kehendaki dari Kita
Bentuk ketiga adalah ma aradallahu minna, yaitu ridha terhadap apa yang Allah kehendaki dari manusia di alam nyata berupa at-taqdirus syar’iy, atau ketentuan syariat.
Allah Ta'ala menghendaki manusia tunduk kepada agama dan syariat-Nya sebagai bukti penghambaan kepada-Nya.
Allah berfirman:
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An'am, 6:153)
Pada bagian ini, manusia tidak hanya diminta menerima ketentuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjalankan syariat yang telah diperintahkan Allah.
Manusia Akan Dimintai Pertanggungjawaban
Berbeda dengan ketetapan Allah yang berada di luar kendali manusia, dalam perkara at-taqdirus syar’iy, manusia akan ditanya dan dihisab atas apa yang dilakukannya.
Allah Ta'ala berfirman:
“Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. Al-Anbiya, 21:23)
Karena itu, memahami ar-ridha tidak berarti menjadikan manusia pasif. Ada ketetapan Allah yang harus diimani dan diterima, ada ketentuan alam yang dapat dipelajari dan dimanfaatkan, serta ada syariat yang harus dijalankan.
Ar-Ridha sebagai Bekal bagi Pelajar
Bagi pelajar, memahami ar-ridha dalam Islam dapat menjadi bekal dalam menghadapi berbagai proses kehidupan.
Dalam perjalanan pendidikan, misalnya, tidak semua hasil akan selalu sesuai dengan harapan. Ada target yang tercapai dan ada pula yang membutuhkan usaha lebih panjang. Ada kesempatan yang datang sesuai rencana, tetapi ada juga kondisi yang mengharuskan seseorang menerima kenyataan dan melakukan evaluasi.
Sikap ridha membantu seseorang menerima apa yang telah ditetapkan Allah tanpa kehilangan semangat untuk berusaha.
Ketika hasil belajar belum sesuai harapan, misalnya, seorang pelajar tetap dapat melakukan evaluasi dan memperbaiki cara belajar. Ketika memperoleh hasil yang baik, ia dapat mensyukurinya dan tetap berusaha menjadi lebih baik.
Dengan demikian, ridha dan ikhtiar bukanlah dua hal yang bertentangan. Menerima ketetapan Allah berjalan bersama dengan menjalankan tanggung jawab yang diberikan kepada manusia.
Memaknai Ar-Ridha dalam Kehidupan Sehari-hari
Kehidupan manusia memiliki banyak hal yang berada di luar kendalinya. Ada keadaan yang dapat diusahakan, tetapi ada pula ketetapan yang harus diterima.
Dari pembahasan ar-ridha, seorang muslim diajak memahami tiga hal penting.
Pertama, mengimani qadha dan qadar serta menerima ketetapan Allah atas dirinya. Kedua, mempelajari sunnatullah di alam semesta dan memanfaatkan pengetahuan untuk kemaslahatan. Ketiga, menjalankan ketentuan syariat sebagai bentuk penghambaan kepada Allah.
Pada akhirnya, ar-ridha bukan sekadar tentang menerima keadaan. Ar-ridha merupakan bagian dari perjalanan keimanan untuk belajar menerima ketetapan Allah, memahami tanda-tanda kebesaran-Nya melalui alam, memanfaatkan ilmu untuk kebaikan, dan menjalankan apa yang diperintahkan-Nya.
Bagi pelajar, pemahaman tersebut dapat menjadi bekal untuk menjalani proses belajar dan kehidupan dengan lebih tenang, tetap berusaha, serta tidak mudah kehilangan arah ketika menghadapi keadaan yang tidak sesuai harapan.
Wallahu a'lam.




