Daftar Bimbel
Hikmah

7 Karakter Orang Saleh yang Bisa Diterapkan Pelajar dalam Kehidupan Sehari-hari

Amiruddin
38 min read · Sep 25, 2026
7 Karakter Orang Saleh yang Bisa Diterapkan Pelajar dalam Kehidupan Sehari-hari
ilustrasi karakteristik orang-orang soleh
Menjadi pribadi yang saleh bukan sekadar tentang seberapa banyak seseorang melakukan ibadah secara ritual. Kesalehan juga tercermin dari bagaimana seseorang menjaga sikap, konsisten melakukan kebaikan, serta memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

Setiap Muslim tentu berharap dapat menjadi bagian dari golongan orang-orang saleh. Bahkan, doa agar termasuk ke dalam golongan hamba yang saleh menjadi salah satu doa yang dianjurkan. Keinginan tersebut bukan hanya dimiliki manusia biasa. Nabi Ibrahim alaihissalam pun memohon kepada Allah agar diberikan hikmah dan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang saleh.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam QS. Al-'Ankabut ayat 9:
“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka pasti akan Kami masukkan ke dalam (golongan) orang yang saleh.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa keimanan dan amal kebajikan memiliki hubungan erat dengan kesalehan. Karena itu, memahami karakter orang saleh penting agar nilai tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Lantas, seperti apa karakter orang-orang saleh?

1. Istiqamah dalam Kebenaran


Karakter pertama adalah berlaku lurus atau istiqamah.

Istiqamah berarti memiliki keteguhan pendirian, konsisten, dan berkomitmen dalam meyakini serta melakukan kebenaran.

Bagi pelajar, sikap ini dapat terlihat dari kebiasaan sederhana. Misalnya, tetap belajar meskipun tidak sedang menghadapi ujian, mengerjakan tugas dengan jujur, disiplin menjalankan tanggung jawab, serta tidak mudah meninggalkan kebiasaan baik hanya karena lingkungan sekitar tidak melakukannya.

Istiqamah memang tidak selalu mudah. Namun, justru konsistensi dalam hal-hal kecil itulah yang perlahan membentuk karakter.

2. Senantiasa Membaca Ayat-Ayat Allah


Orang saleh senantiasa membaca ayat-ayat Allah, baik ayat qauliyah (naqliyah)** maupun **ayat kauniyah (aqliyah).

Ayat qauliyah berkaitan dengan wahyu Allah, sedangkan ayat kauniyah dapat dipahami melalui tanda-tanda kebesaran Allah yang terdapat di alam dan kehidupan.

Bagi seorang pelajar, belajar sebenarnya dapat menjadi bagian dari proses mengenali kebesaran Allah. Ketika mempelajari sains, memahami alam, membaca sejarah, atau mendalami berbagai ilmu pengetahuan, seorang pelajar tidak hanya mengumpulkan informasi. Ia juga dapat belajar melihat keteraturan dan kebesaran ciptaan-Nya.

Dengan demikian, belajar bukan hanya aktivitas akademik, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk menumbuhkan rasa syukur dan ketakwaan.

3. Menjaga Ibadah di Tengah Keheningan Malam


Karakter berikutnya adalah senantiasa bersujud di tengah keheningan malam dengan melaksanakan shalat malam.

Di tengah kesibukan sehari-hari, malam memberikan ruang untuk berhenti sejenak dari berbagai aktivitas. Shalat malam menjadi salah satu bentuk kedekatan seorang hamba kepada Allah.

Bagi pelajar, kebiasaan ini juga dapat menjadi momentum untuk melakukan refleksi. Setelah menjalani kegiatan sekolah, belajar, berinteraksi dengan teman, dan menghadapi berbagai tantangan, ada waktu untuk kembali menata hati dan memohon pertolongan Allah.

4. Beriman kepada Allah dan Menjadikan-Nya Pengingat dalam Setiap Perbuatan


Keimanan kepada Allah menjadi karakter penting berikutnya.

Materi menjelaskan bahwa setiap perbuatan dan tingkah laku orang saleh dilandasi dengan zikir atau mengingat Allah. Zikir kemudian menjadi alat kontrol dan stabilitator agar seseorang terhindar dari berbagai kemaksiatan dan dosa.

Dalam kehidupan pelajar, kesadaran bahwa Allah selalu mengetahui apa yang dilakukan dapat menjadi pengingat untuk menjaga perilaku, termasuk ketika tidak ada guru, orang tua, atau teman yang melihat.

Kejujuran, misalnya, bukan hanya dilakukan karena takut mendapatkan hukuman. Kejujuran lahir dari kesadaran bahwa setiap perbuatan memiliki pertanggungjawaban di hadapan Allah.

5. Memiliki Orientasi Jangka Panjang


Orang saleh juga memiliki keimanan kepada hari akhir. Karena itu, kehidupannya tidak hanya berorientasi pada kepentingan sesaat, tetapi juga pada kehidupan akhirat dan tujuan jangka panjang.

Materi menyebutkan bahwa ia mengisi waktunya dengan kegiatan positif yang bernilai ibadah.

Bagi pelajar, karakter ini dapat diterapkan dengan belajar memahami bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari nilai hari ini. Pendidikan juga merupakan proses panjang untuk membangun ilmu, karakter, tanggung jawab, dan kebiasaan baik.

Nilai ujian memang penting. Namun, kemampuan menjaga kejujuran, disiplin, ketekunan, dan tanggung jawab akan terus dibutuhkan jauh setelah seseorang meninggalkan bangku sekolah.

6. Mengajak Orang Lain kepada Kebaikan


Kesalehan juga memiliki dimensi sosial.

Orang saleh tidak hanya berusaha memperbaiki dirinya sendiri, tetapi juga mengajak orang lain melakukan kebaikan dan menghindari kejahatan atau kemaksiatan. Ia berusaha menjadi teladan agar orang lain dapat mengikuti kebaikan tersebut.

Dalam lingkungan sekolah, hal ini dapat dilakukan dengan cara yang sederhana.

Mengajak teman belajar bersama, mengingatkan ketika ada teman yang membutuhkan bantuan, menjaga ucapan, tidak ikut melakukan perundungan, atau mengajak teman melakukan kegiatan positif merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap sesama.

Nasihat akan lebih bermakna ketika disertai keteladanan. Sebab, perilaku sering kali berbicara lebih kuat daripada kata-kata.

7. Bersegera Melakukan Kebaikan


Karakter terakhir adalah tidak menunda-nunda kebaikan.

Orang saleh digambarkan senantiasa berlomba-lomba melakukan kebaikan yang dilandasi keikhlasan karena Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Bagi pelajar, kebiasaan ini dapat dimulai dari hal-hal sederhana: membantu orang tua, menyelesaikan tugas tepat waktu, membantu teman yang kesulitan memahami pelajaran, menjaga kebersihan lingkungan, hingga menggunakan waktu luang untuk kegiatan yang bermanfaat.

Kebaikan tidak harus selalu berupa tindakan besar. Yang penting adalah kemauan untuk memulai dan melakukannya dengan niat yang baik.

Kesalehan Pribadi dan Kesalehan Sosial


Dari tujuh karakter tersebut, materi menegaskan bahwa kesalehan mencakup dua sisi, yaitu kesalehan ritual (pribadi) dan kesalehan sosial.

Keduanya tidak seharusnya dipisahkan.

Kesalehan pribadi tercermin dari hubungan seseorang dengan Allah melalui keimanan dan ibadah. Sementara kesalehan sosial terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang lain, mengajak kepada kebaikan, menjaga perilaku, serta memberikan manfaat bagi lingkungan.

Bagi seorang pelajar, dua hal tersebut dapat menjadi bekal penting dalam perjalanan pendidikan. Prestasi akademik perlu berjalan bersama dengan pembentukan karakter. Sebab, pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang dikuasai, tetapi juga tentang bagaimana ilmu tersebut membentuk pribadi yang baik.

Menjadi Baik, Dimulai dari Kebiasaan Kecil


Tujuh karakter orang saleh tersebut pada dasarnya tidak harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar dan sulit. Semuanya dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari.

Istiqamah dalam belajar. Jujur ketika mengerjakan tugas. Menjaga ibadah. Mengingat Allah dalam setiap aktivitas. Menggunakan waktu untuk hal positif. Mengajak teman kepada kebaikan. Dan tidak menunda kesempatan untuk berbuat baik.

Bagi pelajar NF, nilai-nilai tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan untuk menjadi pribadi yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan akhlak yang baik.

Sebab, perjalanan menuju keberhasilan bukan hanya tentang menjadi juara dalam sebuah kompetisi. Lebih jauh dari itu, perjalanan pendidikan juga merupakan proses untuk membentuk manusia yang mampu menggunakan ilmu, menjaga nilai, dan memberikan manfaat bagi sesama.

Amiruddin

Ditulis oleh Amiruddin

Penulis di KabarNF

Lihat Profil