JAKARTA — Empat puluh satu tahun perjalanan Bimbingan Belajar Nurul Fikri diperingati melalui puncak Milad ke-41 yang digelar pada 26 September 2026 di Gedung Sasono Langen Utomo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.
Mengusung tema “Membersamai Perjalanan Juara”, puncak Milad ke-41 menjadi momentum bagi keluarga besar Bimbel Nurul Fikri untuk berkumpul, mengenang perjalanan yang telah dilalui, memberikan apresiasi kepada mereka yang berkontribusi, serta meneguhkan semangat untuk melanjutkan perjalanan pendidikan di masa mendatang.
Acara tersebut dihadiri oleh berbagai unsur keluarga besar Bimbel Nurul Fikri, mulai dari pegawai, alumni, orang tua siswa, mitra kerja sama, hingga para pendiri. Kehadiran lintas generasi tersebut menjadi bagian penting dari perayaan karena perjalanan 41 tahun sebuah lembaga pendidikan tidak hanya dibangun oleh satu generasi, melainkan melalui kontribusi banyak pihak dari waktu ke waktu.
Puncak Milad ke-41 diawali dengan tilawah dan doa khotmil Quran, sebagai bagian dari penutup rangkaian Khataman Al-Qur’an 30 Juz yang telah dilaksanakan sebelumnya.
Nuansa spiritual tersebut menjadi pembuka sebelum acara memasuki agenda utama. Bagi Bimbel Nurul Fikri, perayaan ulang tahun lembaga tidak hanya menjadi kesempatan untuk melihat perjalanan organisasi, tetapi juga menjadi momentum untuk meneguhkan kembali nilai yang menyertai perjalanan pendidikan.
Menengok Perjalanan 41 Tahun
Setelah rangkaian tilawah dan doa khotmil Qur’an, acara dilanjutkan dengan sambutan Direktur Bimbel Nurul Fikri, Agus Suprayitno, S.Si., Komisaris Utama Muhammad Taufik Zoelkifli, serta salah satu pendiri Bimbel Nurul Fikri, Drs. Musoli.
Ketiga sambutan tersebut menjadi bagian penting dalam puncak perayaan Milad ke-41 Bimbel Nurul Fikri. Masing-masing menghadirkan perspektif berbeda tentang perjalanan lembaga, mulai dari pengelolaan dan pengembangan organisasi saat ini, arah kelembagaan ke depan, hingga nilai-nilai yang menjadi fondasi sejak awal berdirinya Nurul Fikri.
Direktur Bimbel Nurul Fikri, Agus Suprayitno, S.Si., menekankan bahwa memasuki usia 41 tahun, pertumbuhan lembaga tidak semata-mata diukur dari besarnya organisasi atau capaian angka.
Lebih dari itu, keberlanjutan Nurul Fikri sangat bergantung pada kemampuan menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh berbagai pihak.
“Di usia yang ke-41 ini, pertanyaannya bukan lagi seberapa besar Nurul Fikri akan tumbuh, melainkan seberapa baik kita akan bertumbuh. Aset terbesar kami bukanlah jumlah cabang atau angka-angka kinerja, melainkan kepercayaan dari siswa, orang tua, pegawai, dan masyarakat. Pada akhirnya, kami tidak sekadar menjalankan bisnis bimbingan belajar, tetapi sedang menjaga amanah pendidikan yang telah hadir lebih dari empat dekade untuk mengantarkan generasi muda menuju masa depan cemerlang.”
Pesan tersebut sejalan dengan tema Milad ke-41, “Membersamai Perjalanan Juara”, yang menempatkan proses sebagai bagian penting dari pencapaian. Dalam dunia pendidikan, keberhasilan seorang siswa tidak hadir secara tiba-tiba. Di balik sebuah pencapaian terdapat proses belajar, pendampingan, latihan, tantangan, serta dukungan dari berbagai pihak.
Karena itu, perjalanan tidak kalah penting dari hasil akhir. Semangat untuk terus bertumbuh menjadi bagian dari upaya Nurul Fikri dalam menjaga kualitas layanan pendidikan sekaligus mempertahankan kepercayaan masyarakat.
Dari sisi kelembagaan, Komisaris Utama Muhammad Taufik Zoelkifli mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan lembaga melalui tata kelola yang baik. Usia 41 tahun, menurutnya, bukan hanya tentang melihat capaian yang telah diraih, tetapi juga memastikan fondasi kelembagaan tetap kuat untuk perjalanan berikutnya.
“Perjalanan 41 tahun Nurul Fikri merupakan karunia dan wujud kemahabaikan Allah SWT atas komitmen kita bersama. Ke depan, untuk menjaga keberlanjutan dan keberkahan lembaga ini, kita terus memperkuat tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Hal ini dilakukan dengan memastikan pemenuhan hak dan kewajiban seluruh pemangku kepentingan (stakeholders)—mulai dari manajemen, pengajar, siswa, hingga pemenuhan regulasi pemerintah. Kami berkomitmen agar legacy kebaikan ini terus berdampak bagi generasi mendatang.”
Sementara itu, kehadiran salah satu pendiri Bimbel Nurul Fikri, Drs. Musoli, membawa suasana untuk kembali melihat akar perjalanan lembaga. Dari perspektif pendiri, perkembangan Nurul Fikri tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai yang menjadi dasar ketika lembaga ini pertama kali dibangun.
“Perjalanan 41 tahun Nurul Fikri dibangun atas dua pilar utama, yaitu muatan ideologisasi dan profesionalisasi. Kami mendirikan lembaga ini atas dasar niat ikhlas karena Allah SWT untuk membawa risalah Islam Rahmatan lil ‘Alamin melalui dunia pendidikan. Nurul Fikri tidak hanya berfokus pada kelulusan akademik siswa, tetapi juga pada pembentukan karakter, akhlak, dan nilai-nilai kebaikan. Dedikasi dan nilai-nilai inilah yang terus kami pegang teguh hingga mampu berkembang melahirkan sekolah terpadu dan program pembinaan kepemimpinan bagi masa depan bangsa.”
Tiga perspektif tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan 41 tahun Bimbel Nurul Fikri bukan sekadar catatan tentang usia sebuah lembaga. Di dalamnya terdapat proses panjang menjaga kepercayaan, memperkuat tata kelola, sekaligus mempertahankan nilai-nilai yang menjadi fondasi sejak awal.
Memasuki babak berikutnya, semangat “Membersamai Perjalanan Juara” menjadi pengingat bahwa setiap pencapaian selalu memiliki perjalanan di belakangnya. Dan perjalanan itu terus berlanjut, bersama siswa, orang tua, pengajar, pegawai, serta seluruh pihak yang menjadi bagian dari Nurul Fikri.
Potong Tumpeng, Simbol Syukur 41 Tahun
Salah satu agenda simbolis dalam puncak Milad ke-41 adalah potong tumpeng.
Tradisi tersebut menjadi penanda rasa syukur atas perjalanan yang telah dilalui Bimbel Nurul Fikri selama 41 tahun.
Lebih dari sekadar seremoni, potong tumpeng menjadi simbol bahwa perjalanan panjang sebuah lembaga merupakan hasil dari proses yang dilakukan secara berkelanjutan. Ada kerja, pengabdian, pembelajaran, dan kebersamaan yang terus berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Momentum ini juga menjadi ruang untuk berhenti sejenak, melihat perjalanan yang telah ditempuh, sekaligus mempersiapkan langkah berikutnya.
Menulis Sejarah dalam Buku 41 Tahun
Perjalanan 41 tahun Bimbel Nurul Fikri juga akan didokumentasikan melalui peluncuran penulisan buku “41 Tahun BKB Nurul Fikri Membersamai Perjalanan Juara.”
Penulisan buku tersebut menjadi bagian penting dalam puncak perayaan karena perjalanan panjang sebuah lembaga menyimpan banyak cerita yang layak diwariskan.
Empat puluh satu tahun bukan hanya rentang waktu. Di dalamnya terdapat pengalaman para pendiri, pegawai, pengajar, siswa, alumni, maupun keluarga yang pernah menjadi bagian dari perjalanan Bimbel Nurul Fikri.
Melalui dokumentasi dalam bentuk buku, perjalanan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari catatan sejarah lembaga sekaligus menjadi jembatan bagi generasi berikutnya untuk memahami bagaimana perjalanan Bimbel Nurul Fikri dibangun.
Alumni Kembali dalam Satu Forum
Puncak Milad ke-41 juga menjadi momentum penting bagi para alumni melalui Deklarasi Forum Alumni BKB Nurul Fikri.
Deklarasi tersebut menandai hadirnya ruang bersama bagi para alumni untuk tetap terhubung setelah menyelesaikan masa belajar mereka.
Bagi sebuah lembaga pendidikan, alumni merupakan bagian dari perjalanan yang terus hidup. Mereka membawa pengalaman selama berada di lingkungan pendidikan dan kemudian melanjutkan perjalanan masing-masing di tengah masyarakat.
Karena itu, kehadiran Forum Alumni menjadi salah satu bagian penting dalam puncak Milad ke-41. Hubungan antara lembaga dan alumninya tidak berhenti ketika proses belajar selesai.
Ada jejaring yang dapat terus dibangun. Ada pengalaman yang dapat dibagikan. Dan ada kontribusi yang dapat terus diberikan.
Final Academy Championship Hadirkan Semangat Juara
Semangat kompetisi juga menjadi bagian dari puncak Milad ke-41 melalui Final Nurul Fikri Academy Championship.
Agenda tersebut menghadirkan peserta dalam tahap akhir kompetisi setelah melewati proses sebelumnya.
Kehadiran final kompetisi akademik dalam acara Milad memiliki makna yang sejalan dengan tema “Membersamai Perjalanan Juara.”
Seorang juara tidak hanya dibentuk pada saat menerima penghargaan. Ada proses panjang yang mendahuluinya. Persiapan, latihan, keberanian menghadapi kompetisi, kemampuan menerima tantangan, hingga pengalaman dari setiap tahapan menjadi bagian dari perjalanan.
Karena itu, panggung final bukan hanya menjadi tempat menentukan hasil kompetisi, tetapi juga menjadi ruang untuk merayakan proses yang telah dijalani para peserta.
Apresiasi untuk Mereka yang Berkontribusi
Rangkaian puncak Milad ke-41 kemudian memberikan ruang khusus untuk pemberian apresiasi kepada pegawai.
Apresiasi tersebut menjadi bentuk penghargaan terhadap mereka yang telah menjadi bagian dari perjalanan Bimbel Nurul Fikri.
Sebuah lembaga pendidikan tidak mungkin tumbuh hanya karena satu atau dua orang. Di balik keberlangsungan berbagai program terdapat banyak individu yang bekerja dalam peran masing-masing.
Ada yang berhadapan langsung dengan siswa. Ada yang mengelola program. Ada yang memastikan kegiatan berjalan. Ada pula yang bekerja di balik layar.
Semua memiliki kontribusi dalam membangun perjalanan lembaga.
Karena itu, pemberian apresiasi pegawai menjadi salah satu bagian yang penting dalam puncak Milad ke-41. Perayaan bukan hanya tentang pencapaian lembaga, tetapi juga tentang menghargai orang-orang yang ikut menghidupkan perjalanan tersebut.
Membersamai Perjalanan Juara
Puncak Milad ke-41 Bimbel Nurul Fikri pada akhirnya menjadi pertemuan berbagai unsur yang selama ini memiliki hubungan dengan lembaga.
Para pendiri membawa sejarah. Pegawai membawa pengabdian. Alumni membawa pengalaman. Orang tua membawa kepercayaan. Dan siswa membawa cita-cita yang masih terus bertumbuh.
Semuanya bertemu dalam satu momentum.
“Membersamai Perjalanan Juara” bukan sekadar tema perayaan. Ia menggambarkan proses panjang yang selalu membutuhkan kebersamaan.
Selama 41 tahun, Bimbel Nurul Fikri telah melewati berbagai fase perjalanan. Puncak Milad menjadi kesempatan untuk melihat kembali jejak tersebut, menghargai kontribusi orang-orang di dalamnya, serta menatap perjalanan berikutnya.
Karena pada akhirnya, menjadi juara bukan hanya tentang sampai di tujuan.
Ada perjalanan yang harus ditempuh.
Ada proses yang harus dijalani.
Dan ada orang-orang yang memilih untuk tetap membersamai.
Selamat milad ke-41 Bimbel Nurul Fikri





