Ada perubahan yang perlu diketahui siswa kelas akhir SMA/MA/SMK dan sederajat yang akan mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026. Pemerintah mengubah sistem pelaporan hasil TKA. Jika pada pelaksanaan sebelumnya skor berada dalam rentang 0–100, maka hasil TKA jenjang SMA/sederajat pada 2026 akan dilaporkan dengan rentang 200 hingga 800.
Perubahan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Kepmendikdasmen) Nomor 56 Tahun 2026 tentang Pedoman Penyelenggaraan Tes Kemampuan Akademik dan Asesmen Nasional. Dalam ketentuan terbaru, skor TKA untuk jenjang SMA/MA/sederajat dan SMK/MAK dilaporkan pada rentang 200–800 dengan pembulatan hingga dua angka di belakang koma.
Perubahan skala ini tentu membuat sebagian siswa bertanya-tanya. Apakah skor 725 berarti nilai maksimal? Apakah cara membaca hasil TKA juga berubah?
Jawabannya, tidak sesederhana itu.
Skor TKA 2026 Menggunakan Rentang 200–800
Pada TKA 2026, siswa tidak akan menemukan nilai seperti 75, 85, atau 95 sebagaimana skala penilaian yang selama ini umum dikenal di sekolah.
Hasil TKA akan berada dalam rentang 200 sampai 800. Dengan demikian, angka yang muncul pada hasil TKA perlu dipahami sebagai skor hasil asesmen, bukan nilai sekolah yang menggunakan skala 0–100.
Selain skor numerik, hasil TKA juga akan dianalisis dan dikelompokkan berdasarkan kategori capaian kemampuan peserta. Kategori tersebut terdiri atas Baik, Memadai, dan Kurang.
Ada pula predikat Istimewa untuk peserta yang memenuhi batas skor tertentu.
Untuk jenjang SMA/MA/sederajat dan SMK/MAK, predikat Istimewa diberikan kepada peserta yang memperoleh skor minimal 725,00 pada masing-masing mata uji. Penting dicatat, angka 725 bukan skor tertinggi TKA. Skor yang masih dapat dilaporkan mencapai 800.
Mengapa Skala Nilai TKA Berubah?
TKA pada dasarnya dirancang untuk memberikan gambaran capaian akademik siswa melalui asesmen yang terstandar.
Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen menjelaskan bahwa TKA bertujuan memberikan informasi mengenai capaian akademik murid secara objektif dan adil. Hasilnya juga dapat menjadi informasi bagi siswa mengenai kekuatan dan area akademik yang masih perlu diperkuat.
Karena itu, perubahan skala skor sebaiknya tidak dipandang hanya sebagai perubahan angka.
Yang lebih penting adalah bagaimana siswa memahami hasil tersebut sebagai gambaran kemampuan akademiknya.
Dengan kata lain, jangan sampai perhatian hanya tertuju pada pertanyaan, “Dapat berapa?”
Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah, “Kemampuan apa yang sudah saya kuasai dan bagian mana yang masih perlu ditingkatkan?”
TKA 2026 Tetap Menguji Mata Pelajaran Utama
Untuk jenjang SMA/MA/SMK/MAK dan sederajat, TKA menguji Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, serta dua mata pelajaran pilihan. Pemilihan mata pelajaran pilihan diharapkan disesuaikan dengan minat siswa dan rencana studi lanjut.
Dalam pelaksanaannya, TKA 2026 berlangsung selama empat hari.
Pada hari pertama, siswa mengerjakan TKA Bahasa Indonesia wajib dan literasi. Hari kedua diisi dengan TKA Bahasa Inggris wajib. Selanjutnya, hari ketiga digunakan untuk TKA Matematika wajib dan numerasi.
Pada hari keempat, siswa mengerjakan dua mata pelajaran pilihan.
Berdasarkan jadwal yang diberitakan detikEdu, masing-masing mata pelajaran memiliki durasi yang telah ditentukan. TKA Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris berlangsung selama 75 menit dengan 30 soal, sedangkan TKA Matematika berlangsung selama 75 menit dengan 25 soal. Dua mata pelajaran pilihan masing-masing memiliki durasi 60 menit dengan 25 soal.
Jadwal TKA SMA 2026, Siswa Perlu Mulai Bersiap
Perubahan sistem skor bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan siswa.
Jadwal TKA 2026 juga sudah ditetapkan. Pendaftaran peserta berlangsung pada 27 Juli–27 September 2026, sementara simulasi dijadwalkan pada 21–27 September 2026.
Setelah itu, gladi bersih dilaksanakan dalam dua gelombang pada 5–11 Oktober dan 12–18 Oktober 2026.
Untuk pelaksanaan utama, TKA dijadwalkan pada 26–29 Oktober 2026 untuk gelombang pertama dan 2–5 November 2026 untuk gelombang kedua. Terdapat pula gelombang khusus untuk mata pelajaran wajib maupun mata pelajaran pilihan.
Sementara itu, pelaksanaan susulan dijadwalkan mulai 16 November hingga 29 November 2026.
Hasil TKA dijadwalkan diumumkan pada 23 Desember 2026. Menariknya, peserta nantinya dapat melihat hasil TKA secara mandiri, sehingga tidak harus menunggu sekolah menyampaikan hasil tersebut.
Jangan Terjebak pada Angka
Bagi siswa, perubahan skala skor mungkin terasa seperti hal kecil. Namun, memahami sistem penilaian sejak awal dapat membantu siswa menyiapkan strategi belajar yang lebih tepat.
TKA bukan sekadar persoalan mengejar angka. Soal-soalnya tetap menuntut penguasaan kompetensi mata pelajaran, sekaligus kemampuan penalaran dan pemecahan masalah.
Karena itu, persiapan sebaiknya tidak dilakukan dengan cara menghafal sebanyak-banyaknya menjelang ujian.
Latihan soal perlu diimbangi dengan pemahaman konsep, kemampuan membaca informasi, ketelitian, pengelolaan waktu, serta kebiasaan mengevaluasi kesalahan.
Siswa juga perlu memahami bahwa TKA tidak menentukan kelulusan dari satuan pendidikan. Kelulusan tetap ditentukan oleh satuan pendidikan berdasarkan ketentuan penilaian yang berlaku.
Namun, hasil TKA tetap penting sebagai informasi mengenai capaian akademik siswa dan dalam konteks tertentu dapat digunakan sebagai salah satu sumber informasi dalam proses seleksi akademik.
Saatnya Menyesuaikan Strategi Belajar
Perubahan sistem skor TKA 2026 menjadi pengingat bahwa persiapan menghadapi asesmen perlu dilakukan secara terarah.
Siswa perlu mengenali mata pelajaran yang akan diikuti, memahami kompetensi yang diukur, memperbanyak latihan soal, dan membiasakan diri mengerjakan soal dengan batas waktu.
Yang tidak kalah penting, siswa perlu mengetahui posisi kemampuan dirinya. Dari sana, proses belajar bisa menjadi lebih terarah: materi yang sudah kuat dipertahankan, sementara bagian yang masih lemah mendapat porsi latihan lebih banyak.
Jadi, ketika nanti hasil TKA 2026 menunjukkan angka dalam rentang 200–800, siswa tidak perlu bingung membaca hasilnya.
Angka tersebut bukan sekadar nilai. Di baliknya ada gambaran tentang capaian akademik yang dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus bekal untuk menentukan langkah pendidikan berikutnya.
Persiapan yang baik bukan tentang belajar lebih banyak dalam waktu singkat, tetapi belajar lebih terarah, memahami kemampuan diri, dan konsisten memperbaiki kekurangan.
Referensi:



