Daftar Bimbel
Pembelajaran

Hari Jantung Sedunia 2026: Tips Mengelola Stres Ujian dan Menjaga Kesehatan Jantung bagi Pelajar

Amiruddin
47 min read · Sep 29, 2026
Hari Jantung Sedunia 2026: Tips Mengelola Stres Ujian dan Menjaga Kesehatan Jantung bagi Pelajar
Hari Jantung Sedunia
Mengejar kampus impian bukan perkara sehari atau dua hari. Ada materi yang harus dipahami, latihan soal yang perlu dikerjakan, target nilai yang ingin dicapai, hingga rasa cemas ketika hari ujian semakin dekat.

Bagi sebagian pelajar, masa persiapan ujian juga berarti berhadapan dengan tekanan. Waktu belajar bertambah, jam istirahat terkadang berkurang, sementara pikiran terus dipenuhi pertanyaan: Apakah saya bisa mendapatkan nilai yang ditargetkan? Apakah saya bisa lolos ke kampus impian?

Tekanan seperti itu wajar. Namun, ada satu hal yang tidak boleh ikut dikorbankan dalam perjalanan mengejar prestasi: kesehatan.

Setiap 29 September, dunia memperingati Hari Jantung Sedunia (World Heart Day). Pada 2026, World Heart Federation mengangkat pesan “Don’t Miss a Beat” untuk meningkatkan kesadaran mengenai penyakit kardiovaskular dan pentingnya mengenali tanda-tanda gangguan jantung. Kampanye ini juga mengajak masyarakat mengambil langkah sederhana untuk menjaga kesehatan jantung.

Bagi pelajar, momentum ini menjadi pengingat bahwa menjaga jantung bukan hanya urusan orang dewasa. Kebiasaan hidup sehat perlu dibangun sejak usia muda.

Kesehatan Jantung Bukan Hanya Persoalan Orang Dewasa


Mendengar istilah penyakit jantung, sebagian orang mungkin langsung membayangkan seseorang yang sudah berusia lanjut. Padahal, persoalan kesehatan jantung dapat muncul pada usia yang jauh lebih muda, termasuk akibat kondisi bawaan.

Data terbaru Kementerian Kesehatan RI menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan jantung sejak masa anak-anak. Dalam pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2026, Kemenkes melaporkan bahwa hingga 28 Juni 2026 lebih dari 490 ribu bayi telah menjalani skrining menggunakan pulse oximetry. Sekitar 4,3 persen atau 20.946 bayi teridentifikasi memiliki indikasi kelainan yang memerlukan pemeriksaan lanjutan. Kemenkes menyebut penyakit jantung bawaan kritis sebagai kondisi dengan potensi prevalensi tertinggi dalam enam jenis skrining bayi baru lahir yang dilakukan.

Angka tersebut tentu bukan berarti 4,3 persen seluruh anak Indonesia menderita penyakit jantung. Data tersebut merupakan hasil skrining pada bayi dan menunjukkan adanya indikasi yang masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Pesannya justru lebih sederhana: deteksi dan perhatian terhadap kesehatan jantung perlu dimulai sedini mungkin.

Pada Anak dan Remaja, Faktor Risikonya Juga Perlu Diperhatikan


Selain penyakit jantung bawaan, kebiasaan hidup sejak usia sekolah juga penting diperhatikan karena berkaitan dengan kesehatan di masa mendatang.

Data WHO menunjukkan bahwa prevalensi obesitas pada anak dan remaja usia 5–19 tahun di Indonesia mencapai 10,8 persen pada 2022. Angka tersebut merupakan indikator yang berbeda dari penyakit jantung, tetapi relevan karena kelebihan berat badan dan obesitas pada usia sekolah dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk penyakit jantung, diabetes, dan penyakit tidak menular lainnya di kemudian hari.

Dengan kata lain, menjaga jantung tidak harus menunggu seseorang memasuki usia dewasa.

Apa yang dilakukan seorang pelajar hari ini—mulai dari pilihan makanan, aktivitas fisik, waktu tidur, hingga kebiasaan menghadapi stres—merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan dalam jangka panjang.

Lalu, Apa Hubungannya dengan Stres Ujian?


Hubungannya bukan berarti stres ujian otomatis menyebabkan penyakit jantung.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang merespons stres.

Ketika ujian semakin dekat, pelajar bisa saja mengubah pola hidup secara drastis. Belajar sampai tengah malam, mengurangi aktivitas fisik, terlalu lama duduk di depan laptop, melewatkan waktu makan, atau mengandalkan minuman berkafein secara berlebihan dapat menjadi kebiasaan ketika tekanan akademik meningkat.

Padahal, menjaga kesehatan justru membutuhkan keseimbangan.

Stres sendiri merupakan respons alami tubuh dan pikiran ketika menghadapi tekanan atau situasi sulit. Yang perlu diwaspadai adalah ketika stres berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu tidur, konsentrasi, aktivitas sehari-hari, atau kesejahteraan seseorang.

Karena itu, persiapan ujian sebaiknya tidak hanya berbicara tentang berapa banyak soal yang berhasil dikerjakan, tetapi juga bagaimana menjaga tubuh dan pikiran tetap dalam kondisi baik.

Lima Cara Mengelola Stres Ujian Sekaligus Menjaga Kesehatan Jantung


1. Susun Jadwal Belajar, Jangan Mengandalkan Sistem Kebut Semalam

Salah satu sumber tekanan menjelang ujian adalah materi yang menumpuk.

Daripada menunggu hingga sehari sebelum ujian, pecah materi menjadi target-target kecil. Tentukan apa yang harus dipelajari hari ini, materi apa yang perlu diulang, dan kapan latihan soal dilakukan.

Belajar secara bertahap membuat beban terasa lebih ringan.

Targetnya bukan belajar selama mungkin, melainkan belajar dengan teratur dan efektif.

2. Sisipkan Waktu untuk Bergerak

Belajar berjam-jam dalam posisi duduk mungkin terasa produktif, tetapi tubuh tetap membutuhkan aktivitas.

Berdirilah setelah beberapa waktu belajar. Berjalan sebentar, melakukan peregangan, bersepeda, bermain olahraga, atau melakukan aktivitas fisik lainnya.

World Heart Federation dalam kampanye World Heart Day 2026 juga mendorong masyarakat untuk melakukan aktivitas fisik sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan jantung. Bahkan, kampanye “Keep the Beat” mengajak masyarakat mengambil waktu untuk bergerak setiap hari.

Bagi pelajar, aktivitas fisik tidak harus selalu berupa latihan berat.

Berjalan kaki selama beberapa menit atau bermain olahraga bersama teman juga dapat menjadi cara untuk keluar sejenak dari rutinitas belajar.

3. Jangan Jadikan Begadang sebagai Strategi Utama

“Belajar sampai pagi” sering dianggap sebagai bukti kesungguhan menghadapi ujian.

Padahal, kurang tidur dapat membuat tubuh lebih lelah dan konsentrasi terganggu pada hari berikutnya.

Karena itu, atur jadwal belajar agar waktu tidur tetap terjaga. Materi yang dipelajari sedikit demi sedikit sejak jauh-jauh hari akan jauh lebih membantu dibandingkan memaksakan seluruh materi dalam satu malam.

Tidur bukan musuh produktivitas.

Istirahat merupakan bagian dari persiapan.

4. Perhatikan Apa yang Masuk ke Tubuh

Ketika belajar, camilan sering berada dalam jangkauan tangan. Masalahnya muncul jika hampir seluruh waktu belajar ditemani makanan tinggi gula, garam, atau lemak.

Cobalah menyeimbangkannya dengan makanan yang lebih beragam, termasuk buah dan sayuran, serta cukup minum.

WHO menjelaskan bahwa kelebihan berat badan dan obesitas pada anak usia sekolah dan remaja memiliki konsekuensi kesehatan jangka panjang, termasuk peningkatan risiko penyakit jantung dan berbagai penyakit tidak menular.

Karena itu, pola makan sehat bukan sekadar persoalan penampilan. Ia merupakan bagian dari investasi kesehatan.

5. Beri Waktu untuk Istirahat dan Mengelola Pikiran

Ada kalanya otak sudah tidak mampu menerima materi baru.

Jika mulai sulit berkonsentrasi, mudah marah, atau merasa sangat tertekan, berhentilah sejenak.

Tarik napas perlahan. Minum air. Berjalan sebentar. Berbicara dengan orang tua, guru, teman, atau orang yang dipercaya.

Tidak semua masalah harus diselesaikan dalam satu waktu.

Jika tekanan yang dirasakan semakin berat dan mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu mencari bantuan dari orang dewasa yang dipercaya atau tenaga profesional.

Jangan Sampai Mengejar Kampus Impian dengan Mengabaikan Diri Sendiri


Menjadi mahasiswa di kampus favorit tentu menjadi impian banyak pelajar. Untuk mencapainya, diperlukan persiapan akademik yang serius.

Namun, perjuangan tersebut bukan perlombaan untuk melihat siapa yang paling lama belajar atau siapa yang paling sedikit tidur.

Prestasi akademik membutuhkan konsistensi. Dan konsistensi lebih mudah dibangun ketika tubuh dan pikiran berada dalam kondisi yang terjaga.

Data Kemenkes tentang hasil skrining bayi menunjukkan bahwa kesehatan jantung memang perlu diperhatikan sejak usia dini. Sementara itu, data WHO mengenai obesitas anak dan remaja menunjukkan bahwa faktor kesehatan yang berkaitan dengan penyakit tidak menular sudah menjadi perhatian sejak usia sekolah.

Artinya, menjaga kesehatan jantung bukan agenda yang baru dimulai ketika seseorang sudah dewasa.

Kebiasaan kecil hari ini dapat menjadi bekal untuk masa depan.

Kejar Impian, Tetap Jaga Kesehatan


Hari Jantung Sedunia bukan berarti pelajar harus merasa takut terhadap penyakit jantung.

Sebaliknya, momentum ini dapat menjadi pengingat untuk lebih mengenal tubuh sendiri dan membangun kebiasaan yang sehat.

Kejar nilai terbaik. Persiapkan ujian dengan sungguh-sungguh. Latih kemampuan menghadapi soal. Susun strategi menuju kampus impian.

Tetapi di sela-sela semua itu, jangan lupa bergerak, makan dengan lebih baik, tidur cukup, dan berikan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat.

Sebab perjalanan menuju kampus impian bukan hanya tentang seberapa tinggi target yang ingin dicapai, tetapi juga tentang bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menjalani perjalanan tersebut dengan sehat.

Kejar impian kampus favorit. Jangan lupa jaga jantung.

Karena masa depan yang ingin diraih masih panjang—dan setiap langkah menuju ke sana layak dijalani dengan tubuh dan pikiran yang terjaga.

Referensi:

Amiruddin

Ditulis oleh Amiruddin

Penulis di KabarNF

Lihat Profil