Daftar Bimbel
Lifestyle

10 Kebiasaan Sederhana yang Bisa Dilakukan Pelajar untuk Mengurangi Sampah

Amiruddin
41 min read · Sep 23, 2026
10 Kebiasaan Sederhana yang Bisa Dilakukan Pelajar untuk Mengurangi Sampah
Pexels/khryaaa
Sampah mungkin bukan pelajaran yang tertulis di papan tulis. Namun, dari sampah, pelajar bisa belajar banyak hal: tentang tanggung jawab, kedisiplinan, kebiasaan, bahkan tentang bagaimana sebuah tindakan kecil dapat berdampak pada lingkungan.

Coba perhatikan lingkungan sekolah. Ada botol plastik yang tertinggal setelah jam istirahat, bungkus makanan di sekitar kantin, kertas yang hanya digunakan pada satu sisi, atau sedotan dan kemasan sekali pakai yang langsung berakhir di tempat sampah.

Sekilas, jumlahnya tampak kecil. Tetapi jika kebiasaan yang sama dilakukan oleh ratusan bahkan ribuan siswa setiap hari, volumenya tentu berbeda.

Persoalan sampah memang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan petugas kebersihan. Ada bagian yang jauh lebih penting, yakni mengubah kebiasaan orang-orang yang menghasilkan sampah tersebut.

Bagi pelajar, perubahan itu tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Justru, langkah paling masuk akal adalah membangun kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan setiap hari.

Berikut 10 kebiasaan yang dapat diterapkan pelajar untuk ikut mengurangi sampah sekaligus menjaga lingkungan belajar tetap bersih dan nyaman.

1. Membawa Botol Minum Sendiri


Membawa tumbler atau botol minum dari rumah merupakan salah satu kebiasaan sederhana yang cukup berdampak.

Dengan membawa botol sendiri, pelajar tidak perlu membeli air minum dalam kemasan setiap kali merasa haus. Artinya, semakin sedikit botol plastik sekali pakai yang digunakan.

Selain mengurangi sampah, kebiasaan ini juga membuat pelajar terbiasa menyiapkan kebutuhan sebelum berangkat sekolah.

Sederhana, tetapi jika dilakukan setiap hari, dampaknya bisa terakumulasi.

2. Membawa Kotak Makan dari Rumah


Hal serupa dapat dilakukan ketika membawa bekal.

Menggunakan kotak makan sendiri membantu mengurangi penggunaan kantong plastik, styrofoam, maupun kemasan makanan sekali pakai. Pelajar juga dapat menyesuaikan jumlah makanan dengan kebutuhan sehingga makanan tidak mudah tersisa.

Dari sini, ada pelajaran lain yang tidak kalah penting: mengurangi sampah juga berarti belajar menghargai makanan.

3. Mengurangi Penggunaan Plastik Sekali Pakai


Tidak semua penggunaan plastik dapat dihindari. Namun, bukan berarti semuanya harus digunakan.

Ketika membeli makanan atau minuman, misalnya, pelajar dapat mempertimbangkan apakah kantong plastik benar-benar diperlukan. Jika barang yang dibeli sedikit dan bisa dibawa tanpa kantong, mengapa harus menambah satu lagi?

Begitu pula dengan penggunaan sedotan, sendok, atau alat makan sekali pakai. Jika tersedia pilihan yang dapat digunakan kembali, pilihan tersebut bisa menjadi alternatif.

Kuncinya bukan pada menghindari plastik secara sempurna, melainkan mengurangi penggunaannya ketika memang memungkinkan.

4. Menggunakan Kertas Secara Bijak


Di tengah semakin banyaknya aktivitas digital, kertas tetap digunakan dalam kegiatan belajar. Karena itu, penggunaannya perlu dilakukan secara bijak.

Kertas yang masih memiliki sisi kosong dapat dimanfaatkan kembali untuk mencatat latihan atau membuat konsep. Tugas dan materi yang memungkinkan untuk dikerjakan secara digital juga dapat dikerjakan tanpa harus selalu mencetak.

Kebiasaan kecil seperti menggunakan kedua sisi kertas dapat membantu mengurangi pemborosan.

Bagi pelajar, ini sekaligus menjadi latihan untuk menggunakan sesuatu sesuai kebutuhan, bukan sekadar karena tersedia.

5. Membawa Tas Belanja yang Dapat Digunakan Kembali


Kebiasaan membawa tas belanja lipat mungkin terdengar lebih dekat dengan kehidupan orang dewasa. Padahal, pelajar juga bisa menerapkannya.

Tas tersebut dapat dibawa ketika membeli makanan, perlengkapan sekolah, atau kebutuhan lain. Dengan demikian, penggunaan kantong plastik dapat dikurangi.

Tidak perlu menunggu menjadi dewasa untuk belajar bertanggung jawab terhadap lingkungan. Kebiasaan baik justru akan lebih mudah terbentuk jika dimulai sejak sekolah.

6. Memilah Sampah Sesuai Jenisnya


Membuang sampah pada tempatnya merupakan langkah dasar. Namun, pelajar dapat melangkah lebih jauh dengan belajar memilah sampah.

Sampah organik seperti sisa makanan berbeda dengan sampah anorganik seperti botol plastik, kaleng, atau kertas. Jika tersedia tempat sampah terpilah di sekolah, manfaatkan sesuai fungsinya.

Memilah sampah juga mengajarkan satu hal penting: tidak semua sampah memiliki perlakuan yang sama.

Dengan pemilahan sejak awal, sampah tertentu akan lebih mudah dikelola, digunakan kembali, atau didaur ulang.

7. Menghabiskan Makanan yang Sudah Diambil


Sampah makanan sering kali tidak terlihat sebagai persoalan besar. Padahal, makanan yang tersisa tetap menjadi bagian dari sampah yang harus dikelola.

Karena itu, pelajar dapat membiasakan diri mengambil makanan sesuai kebutuhan dan menghabiskannya.

Bukan berarti harus memaksakan diri menghabiskan makanan ketika sudah kenyang. Yang lebih penting adalah belajar memperkirakan porsi dan mengambil makanan secara bijak.

Kebiasaan ini bukan hanya soal kebersihan lingkungan, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap makanan dan proses panjang di baliknya.

8. Menggunakan Kembali Barang yang Masih Layak


Barang yang sudah tidak terlihat baru bukan berarti langsung menjadi sampah.

Buku yang masih memiliki halaman kosong dapat dimanfaatkan untuk catatan. Map, kardus, wadah, atau perlengkapan belajar tertentu juga bisa digunakan kembali selama masih layak.

Prinsipnya sederhana: sebelum membuang sesuatu, tanyakan terlebih dahulu, “Apakah barang ini masih bisa digunakan?”

Pertanyaan kecil tersebut dapat mengubah cara seseorang melihat barang-barang di sekitarnya.

9. Ikut Menjaga Kebersihan Kelas dan Lingkungan Sekolah


Menjaga lingkungan bukan hanya tugas petugas kebersihan.

Pelajar dapat mengambil bagian melalui kegiatan sederhana, seperti melaksanakan piket kelas, memungut sampah yang terlihat di sekitar meja, menjaga kebersihan halaman, atau ikut dalam kegiatan bersih-bersih sekolah.

Tidak perlu menunggu lingkungan menjadi kotor untuk bergerak.

Ketika setiap siswa merasa memiliki tanggung jawab terhadap ruang yang digunakannya untuk belajar, kebersihan tidak lagi menjadi pekerjaan satu atau dua orang. Ia menjadi kebiasaan bersama.

10. Mengajak Teman Melakukan Hal yang Sama


Kebiasaan baik akan lebih kuat ketika dilakukan bersama.

Seorang siswa yang membawa tumbler mungkin terlihat biasa saja. Namun ketika satu kelas melakukan hal yang sama, jumlah botol plastik sekali pakai yang dapat dikurangi tentu menjadi lebih besar.

Begitu juga dengan kebiasaan memilah sampah, membawa bekal, menggunakan kembali kertas, maupun menjaga kebersihan kelas.

Tidak perlu menggurui teman. Cukup mulai dari diri sendiri dan memberikan contoh.

Sering kali, perubahan di lingkungan sekolah tidak dimulai dari sebuah kampanye besar. Ia dimulai dari seseorang yang memilih melakukan sesuatu dengan cara yang lebih baik.

Belajar Menjaga Lingkungan Dimulai dari Kebiasaan


Menjaga lingkungan bukan persoalan yang hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, sekolah, petugas kebersihan, atau organisasi lingkungan. Setiap orang memiliki bagian.

Pelajar pun demikian.

Sekolah pada dasarnya bukan hanya tempat untuk mempelajari matematika, bahasa, sains, atau berbagai mata pelajaran lainnya. Sekolah juga menjadi ruang untuk membentuk kebiasaan dan karakter.

Ketika seorang siswa belajar membuang sampah pada tempatnya, membawa botol minum sendiri, mengurangi penggunaan plastik, atau menggunakan kertas secara bijak, sebenarnya ia sedang belajar tentang tanggung jawab.

Pelajaran seperti ini mungkin tidak selalu muncul dalam bentuk soal ujian. Namun, dampaknya dapat terbawa jauh setelah seseorang meninggalkan bangku sekolah.

Karena itu, tidak perlu menunggu menjadi aktivis lingkungan untuk mulai peduli terhadap sampah. Tidak harus menunggu ada program besar untuk melakukan perubahan.

Mulailah dari hal yang paling dekat.

Dari botol minum yang dibawa dari rumah. Dari kertas yang digunakan dua sisi. Dari makanan yang diambil secukupnya. Dari sampah yang dipilah sebelum dibuang.

Sebab lingkungan yang bersih tidak lahir dari satu tindakan besar, melainkan dari kebiasaan baik yang dilakukan berulang-ulang.

Dan bagi pelajar, mungkin inilah salah satu pelajaran paling nyata yang bisa dipelajari dari lingkungan: perubahan besar selalu punya awal yang sederhana.

Amiruddin

Ditulis oleh Amiruddin

Penulis di KabarNF

Lihat Profil